Jadi Bintang di 2018


Masih bisa dibilang suasana tahun baru nggak sih udah lewat tengah bulan Januari ini?? Mungkin sebagian orang masih iya, lainya lagi enggak. Biasanya orang-orang yang susah move on sih yang hari geneee masih dianggap suasana tahun baru.

Sementara yang lain udah jalan wujutin resolusi tahun baru, si yang susah move in ini masih aja bikin harapan dan resolusi. Ada yang kayak gini?

Ada, gue orangnya.



Sebenrnya nggak terlalu kepikiran tentang resolusi tahun ini sih, sampai akhirnya mba Taro si blogger hits Semarang yang jadi salah satu Founder Komunitas Blogger Gandjel Rell ini bikin tema resolusi 2018 di arisan periode ini.Yang rutin baca blog ini tahu kan ya beberapa bulan ini gue ikutan arisan link blog dengan mbak-mbak blogger di Gandjel Rell.

Kebanyakan orang emang punya harapan nggak cuman diawal tahun sih ya, gue juga. Cuman setelah apa yang gue alami dengan harapan-harapn itu gue nyerah entah sejak kapan. Tapi dari itu, pada akhirnya gue belajar tentang ilmu menerima. Emang dasarnya menerima adalah bentuk rasa syukur terbaik menikmati hidup. Hati dan pikiran rasanya nggak penuh  lagi karena banyak hal yang belum bisa kita terima.

Tahun-tahun setelahnya gue nggak pernah punya harapan khusus. Hanya pengen-pengenan yang sekelibat muncul dikepala. Tahun lalu yang bener-bener gue pengen wujutin ya cuman bisa nyelesein kuliah dan diwisuda bulan Maret, baca di sini.

Alhamdulilah setelah keinginan wisuda itu tercapai, justru banyak hal terjadi dan diluar ekspektasi. Mungkin itu bonus dari rasa menerima itu kali ya. 

Gue yang dulu itu ambisius banget. Selalu ada target yang pengen gue capai di titik tertentu, makannya dulu gue ngoyo banget orangnya yang ngerjain ini itu. Tapi, nggak tahu kenapa 8 dari 10 yang gue targetin selalu gagal. Dua diantaranya juga nggak maksilam hasilnya. Jadi berakhir dengan kecewa dan penyesalan. Kalo udah dihasil akhir mengecewakan gini udah ancur-ancuran lah moodnya, jeblok banget. Buat naikin moodnya lagi butuh waktu lumayan lama. Gitu buruknya si ambisius itu. Setelah kejadian-kejadian itu gue mulai sadar, apa yang membuat kita sakit sebenernya ya diri kita sendiri.

Harus lebih bisa menerima dan berdamai dengan diri sendiri. Setelah itu, apa yang gue kerjakan berasa lebih ringan. Kayak tahun lalu yang gue jalani dengan santai, sangat santai tanpa ada target apapun. Sempet sedikit bimbang sih antara nyari kerja kantoran atau serius aja menekuni passion menulis ini. Cuman dengan apa yang udah gue terima dan kerjain di akhir-akhir tahun 2017 lalu dengan Titik Tengah Partnership insyallah mulai mantap dengan pilihan.

Masih dengan rasa-rasa tahun 2017 lalu, gue nggak pengen bikin resolusi macam-macam tahun ini. Kerjakan apa aja yang bisa dikerjakan, kembangkan apapun yang bisa dikembangkan, pelajari apapun yang bisa dipelajari.

Jadi nggak ada resolusi spesifik tahun ini, appaun itu gue berharap bisa jadi bintang tahun ini. Paling tidak bintang hati ibu ku. Uhuukk..


Tinggalkan Komentar anda Tentang Berita ini